Merencanakan Jalan-Jalan ke Eropa Sendiri (Intro)

Merencanakan Jalan-Jalan ke Eropa - Praha

Ayo Jalan-Jalan ke Eropa!

Yeah!! Akhirnya setelah ngidem jalan-jalan jauh 2 taun belakangan ini, gw akan jalan lagi Oktober nanti, lebih tepatnya jalan-jalan ke Eropa. Mungkin sebelum gw cerita panjang lebar, sesuai budaya timur yang kita jalankan bersama, sopannya gw memperkenalkan dulu kali ya? Nama lengkap gw Edward Francois Marbun, biasa dipanggil Edo. Singkat kata singkat cerita (nanti kalau panjang-panjang jadi biografi bukannya traveling stories nih), gw hobi sekali sama yang namanya jalan-jalan atau bahasa kerennya traveling sejak gw mulai kerja di akhir taun 2007.

Kenapa setelah gw mulai kerja? Pertama, karena gw udah bisa cari duit sendiri, gw berasa kurang kenikmatannya jalan-jalan kalau pake duit orangtua, hehehe. Kedua, jalan-jalan itu adalah salah satu obat paling mujarab buat gw untuk melepas stress yang terakumulasi selama menjalani rutinitas kantoran, apalagi jalan-jalan ke Eropa. We deserve a break every once in a while.

By the way, sebelum kita berhubungan lebih jauh lagi, perlu gw tekankan dulu kalau jalan-jalan (termasuk jalan-jalan ke Eropa) dalam definisi gw beda dengan tour yah, bukannya gw anti tour, cuma gw pribadi menikmati jalan-jalan mulai dari proses mikir mau jalan-jalan kemana (harus nabung berapa? <– ini proses paling berat menurut gw), browsing ke forum-forum maupun website soal ulasan perjalanan sesama traveler, proses bikin itinerary-nya sampe proses booking-bookingnya (dari booking tiket pesawat, kereta, bis, akomodasi sampe museum/atraksi di tempat yang dituju.Intinya apa aja yg bisa dibooking di depan akan gw booking duluan untuk mengurangi unsur ketidakpastian di tempat yang dituju nantinya – sayang soalnya kalau waktu jalan-jalan abis buat planga-plongo kebingungan trus pontang-panting ngurusin sesuatu yang sebenernya bisa disiapin dan rencanain sebelumnya).

Oiya, ada lagi satu proses yang biasanya paling bikin deg-degan buat kebanyakan orang Indonesia kalau mau jalan-jalan ke Eropa, yaitu apply visa! (memang gak semua negara tujuan jalan-jalan kita butuh visa, tapi buat hampir semua yang di luar ASEAN kita butuh! -__-“). Lihat daftar negara Schengen untuk jalan-jalan ke Eropa agar tahu batasan Visa Schengen.

Oleh karena alasan-alasan itulah, gw pribadi merasa kurang afdol kalau jalan-jalan gw dibatasi destinasinya sesuai dengan paket-paket yang ditawarin (apalagi jalan-jalan ke Eropa yang punya banyak banget destinasi menarik), dokumen travel dan visa diurusin semuanya, sampe pada akhirnya pas jalan-jalan digiring kesana kemari sama tour guide-nya (kadang pipis aja harus buru-buru gara-gara takut ditinggal rombongan, hehehe).

Persiapan Awal Jalan-Jalan ke Eropa

Oke,gw rasa cukup intronya di edisi perdana ini, let’s roll.

Berawal dari promo tiket SQ Jakarta – Frankfurt (PP) di bulan Februari/Maret lalu yang cukup miring, gw bersama seorang  temen sedari jaman masih di bangku kuliah dulu, sebut saja namanya Dimas, akhirnya mutusin untuk ngerasain Oktoberfest like locals sekaligus jalan-jalan di Eropa dengan menjelajahi negara-negara sekitarnya. Agak impulsive cenderung nekad memang rencana jalan-jalan di Eropa ini, mengingat proses dari kami tahu ada promo tiket tersebut hingga proses memutuskan untuk menggesek kartu kredit kami terjadi di satu hari yang sama. Setelah dipikir-pikir, melihat statistic history trend 2 tahun belakangan dimana banyak temen dari circle kami getting married dan bahkan punya anak setelahnya, kami takut kalau giliran kami pun akan segera tiba. Bukannya mau menggeneralisir bahwa kalau sudah berkeluarga terus gak bisa lagi jalan-jalan ya, cuma memang sepertinya gak bisa segampang itu jalan-jalan (yang jauh seperti jalan-jalan ke Eropa) setelah berkeluarga dan punya anak?

Merencanakan Jalan-Jalan ke Eropa

Mari kembali ke topik, moral of the story-nya adalah find and book early bird ticket for your trip, cari tiket early bird yang biasanya lebih miring dari harga normal. Semakin jauh destinasi yang dituju, semakin jauh-jauh hari sebaiknya kita cari dan book tiketnya (seperti kalau mau jalan-jalan ke Eropa). Disini gw gak akan bahas soal tanggal perjalanan pas peak season atau off-peak season ya, karena biarpun namanya tiket early bird, kalau mau harga miring ya kecil kemungkinannya untuk dapet tiket pas peak season. (note: biasanya periode peak season jalan-jalan ke Eropa itu Juni – Agustus dan Desember – Januari)

Merencanakan Jalan-Jalan ke Eropa - 1

Di edisi selanjutnya, gw akan bahas soal penyusunan rencana perjalanan jalan-jalan ke Eropa atau biasa disebut trip itinerary. Bagaimana gw dan Dimas brainstorming yang awalnya mau jalan-jalan ke Frankfurt, Munich, Wina, Bucharest, Budapest, Prague, Warsaw, Berlin dan Amsterdam hingga akhirnya sepakat untuk hanya merencanakan jalan-jalan ke Eropa kami ke Frankfurt, Munich, Wina, Budapest, Prague dan Amsterdam dalam 15 hari. ‘Til then, go and book your early bird ticket! 

Mari jalan-jalan ke Eropa!

 

Please share if you find it useful :)Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+5Share on LinkedIn0
Edward Francois Marbun

About 

Di waktu luangnya sebagai travel enthusiast, Edward bekerja sebagai bankir sejak Ia lulus dari Teknik Industri ITB di tahun 2007. Easy going traveller yang sangat menggemari mie goreng instant ini membuatnya selalu membawa beberapa bungkus untuk dinikmati di tempat-tempat yang Ia kunjungi.

Get More from Travescape

Love to read our stories? You can always stay updated!


Comments

  1. Hello Edward, really like your blog coz saya juga suka banget travelling.
    Post nya yg about Menyusun itinerarty ke Erope really helpful.
    Kalau ada another experience about travelling to Europe (east & west) or middle east please please share.

    Thanksss

Speak Your Mind

*